Filosofi Alun-Alun Tanah Jawa

0
90
Foto : santossalam.blogspot.com

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COM – Alun-alun, kalau anda mendengar kata tersebut pasti teringat sebuah lapangan terbuka, yang ditengahnya terdapat dua pohon beringin besar dan disekelilingnya terdapat beberapa kantor pemerintahan dan masjid. Itulah sekilas gambara alun-alun yang ada di tanah Jawa. Alun-alun biasanya digunakan untuk pusat kegiatan masyarakat seperti upacara atau acara-acara besar lainnya.

Pada zaman dahulu, Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan seperti Rampokan macan yaitu acara yang menarik dan paling mendebarkan yaitu dilepaskannya seekor harimau yang dikelilingi oleh prajurit bersenjata.

Hingga hari ini, alun-alun di seluruh tanah Jawa ini memiliki konsep yang sama dengan alun-alun jaman dulu. Di tengah-tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang di pagari sekelilingnya. Dua pohon beringin ini memiliki filosofi bahwa seorang pemimpin harus mengayomi rakyatnya.

Alun-alun juga terpisah oleh satu jalan lurus yang membelah alun-alun menjadi sebelah timur dan barat. Jalan lurus di tengah alu-alun tersebut menuju pendopo yang berada di sisi utara alun-alun. Jalan tengah ini bermakna bahwa rakyat yang ingin sowan atau berkunjung ke rajanya atau pemimpinnya hanya menampakan diri agar lebih sopan.

Sedangkan pembagian alun-alun menjadi bagian barat dan bagian timur ini melambangkan kebaikan dan keburukan. Biasanya di sisi barat alun-alun terdapat masjid, sedangkan di sisi timurnya terdapat lembaga peradilan atau penjara.

Baca Juga:  Wisata Gua Selarong, Menapaki Perjuangan Pangeran Diponegoro

Tinggalkan Komentar