Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar Indonesia Penulis Bumi Manusia

0
37
Pramoedya Ananta Toer
Foto: oknews.co.id

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COM – Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu sastrawan besar di Indonesia. Dia merupakan sastrawan yang sangat produktif dengan berbagai karya yang fenomenal. Baru-baru ini, novelnya yang berjudul Bumi Manusia sudah difilmkan oleh sutradara Hanung Bramantyo dan telah rilis di bioskop pada 15 Agustus 2019. Lalu, seperti apa sosok penulis yang lebih akrab disapa dengan Pram ini?

Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
Foto : rilis.id

Pram lahir tanggal 6 Februari 1925 di daerah Blora, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Mastoer Imam Badjoeri yang berprofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta. Sedangkan ibunya bernama Saidah.
Pram memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer. Dia mulai bersekolah di Sekolah Institut Boedi Utomo di Blora. Di sekolah tersebut dia diajar langsung oleh ayahnya yang bekerja sebagai guru. Namun, dia tercatat beberapa tidak naik kelas.
Tamat dari Boedi Utomo, kemudian dia bersekolah di Sekolah Teknik Radio Surabaya selama satu setengah tahun pada tahun 1940 hingga 1941. [ada tahun 1942, Pram berangkat ke Jakarta dan bekerja sebagai tukang ketik di Kantor Berita Jepang bernama ‘Domei’ tepatnya saat masa penjajahan Jepang di Indonesia.
Sambil bekerja, Pram juga mengikuti pendidikan di Taman Siswa yang dibangun oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 1942 sampai 1943. Di tahun 1944 – 1945, dia bergabung di sebuah kursus Stenografi. Lalu, dia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada tahun 1945.
Memasuki masa pasca kemerdekaan Indonesia, yakni pada tahun 1946, Pram mengikuti pelatihan militer Tentara Keamanan Rakyat. Kemudian, dia bergabung dengan Resimen 6 dengan pangkat letnan dua dan dia ditugaskan di Cikampek. Lalu, dia kembali ke Jakarta pada tahun 1947.
Pada tanggal 22 Juli 1947, Pram ditangkap Belanda dengan tuduhan menyimpan dokumen pemberontakan melawan Belanda yang kembali ke Indonesia untuk berkuasa. Lalu, dia diberi hukuman penjara dan dipenjarakan di Pulau Edam. Dia dipenjarakan di daerah Bukit Duri hingga tahun 1946. Dalam masa tahanannya tersebut, Pram banyak menulis buku dan cerita pendek.

Baca Juga:  Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ke-4

Menjadi Pimpinan LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat)

Setelah keluar dari penjara, Pramoedya Ananta Toer bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka Jakarta antara tahun 1950 sampai tahun 1951. Di tahun berikutnya, dia mendirikan Literary and Fitures Agency Duta sampai tahun 1954.
Bahkan, Pram juga sempaty ke Belanda untuk mengikuti program pertukaran budaya dan tinggal di sana selama beberapa bulan. Tidak lama kemudian, Pram pulang ke Indonesia dan menjadi anggota Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA). LEKRA merupakan organisasi kebudayaan yang dikenal berhaluan kiri.
Di tahun 1956, Pram sempat ke Beijing untuk menghadiri hari kematian Lu Sung. Saat kembali ke Indonesia, Pram kemudian mulai mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan orang-orang Tionghoa di Indonesia. Bahkan, Pram juga menjalin hubungan yang erat dengan para penulis dan sastrawan dari Tiongkok.
Di masa tersebut, Pram banyak menulis mengenai karya-karya sastra dan berbagai tulisan yang mengkritik pemerintahan Indonesia. Terutama, mengkritisi penyiksaan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
Lalu, pada tahun 1958, Pram dijadikan pimpinan pusat LEKRA yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh D.N. Aidit. Jabatannya tersebut membuat banyak seniman yang berseberangan opini dan pemikiran dengan Pramoedya, terutama para seniman yang menantang aliran komunis di Indonesia.
Pram menjadi dosen sastra Universitas Res Republica. Selain itu, dia menjadi seorang dosen akademi jurnalistik dan berprofesi sebagai redaktur Majalah Lentera.

Ditangkap, Dipenjara, dan Diasingkan di Pulau Buru

Memasuki tahu 1960-an, PKI makin masif dalam memperluas pengaruhnya sampai terjadi gejolak politik di mana partai tersebut melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama G30S/PKI. Selain itu, terjadi juga pergantian kekuasaan dari Ir. Soekarno ke Soeharto.
Di bawah pemerintahan Soeharto, penumpasan PKI dilakukan. Hal tersebut yang membuat berbagai organisasi yang berada di bawah PKI seperti LEKRA menjadi terancam. Lalu, pemerintah menangkap Pram dengan tuduhan mendukung komunis.
Dia akhirnya ditahan tanpa adanya pengadilan dari tahun 1965 hingga tahun 1969. Setelah itu, dia dibawa ke penjara Nusakambangan di Jawa Tengah dan dibuang di Pulau Buru yang dikenal sebagai pulau buangan para tahanan politik PKI dari tahun 1969 sampai 1979. Di pulau tersebut, pram dilarang menulis oleh pemerintah. Namun, dia tetap menulis berbagai karyanya, bahkan ia juga menulis novel semi fiksi yang berjudul Bumi Manusia.

Baca Juga:  Profil Lengkap Fery Unardi, Pendiri Aplikasi Traveloka

Bebas dari Penjara

Pada bulan Desember 1979, Pram akhirnya tidak terbukti terlibat dalam gerakan pemberontakan G30S/PKI. Akan tetapi, dia menjadi tahanan rumah oleh pemerintahan Soeharto sampai tahun 1992. Lalu, dia naik menjadi tahanan kota sampai tahanan negara hingga tahun 1999.
Hampir separuh hidupnya dia habiskan di dalam penjara karena hubungannya dengan PKI. Namun, pada masa itu dia juga aktif menulis. Sayangnya, banyak karya-karya atau tulisannya yang dilarang terbit oleh pemerintah orde baru sampai tahun 1995.
Saat pegantian pemerintahan orde baru ke orde selanjtnya, yakni orde reformasi, Pram banyak menuliskan berbagai pemikirannya dalam kolom-kolom majalah. Dalam tulisannya tersebut, Pram banyak mengkritik pemerintahan yang baru.
Sebagai sastrawan yang sudah menelurkan banyak karya sastra, Pramoedya Ananta Toer banyak menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional seperti Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI, Ramon Magsaysay, Norwegian Author’s Union Award, dan juga penghargaan dari Universitas Michigan Amerika.

Wafatnya Pramoedya Ananta Toer

Walau sudah memasuki usia senja, Pram tetap aktif menulis. Dia termasuk perokok berat dan pada tahun 2006 dia dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit diabetes, sesak nafas, dan jantungnya yang lemah. Sampai kemudian, dia keluar lagi. Dia kembali masuk ke rumah sakit saat kondisinya semakin buruk karena penyakit radang paru-paru.
Pada tanggal 30 April 2006, Pram akhirnya menghembuskan nafas terakhir dan tutup usia di umurnya yang 81 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh banyak tokoh masyarakat yang terkenal seperti wakil presiden Jusuf Kalla. Selanjutnya, Pram dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Keluarga Pramoedya Ananta Toer

Pram diketahui mempunyai seorang istri bernama Maemunah Thamrin dan memiliki lima orang anak. Dia juga memiliki sembilan orang cucu. Istri Pram meninggal pada Januari 2011 dan dimakamkan di tempat yang sama dengan Pram, yakni di TPU Karet Bivak.

Tinggalkan Komentar