Perjuangan Ibu Guru Terpaksa Menggendong Anaknya yang Lumpuh ketika Mengajar

0
56

Hati siapa tidak akan tersentuh ketika melihat perjuangan wanita ini. Kondisi yang cukup memprihatinkan dialami seorang guru honorer di Grobogan, Jawa Tengah. Dia adalah Retno Ambarwati, warga desa Tunggak kecamatan Toroh, Grobogan, Jawa Tengah ini harus mengajar sambil menggendong anaknya di SDN 3 Tunggak . Retno guru honorer Sekolah Dasar ini terpaksa menggendong anaknya Fakhri Munif Assahri yang masih berusia tiga setengah tahun di depan murid-muridnya.
Fakhri anak tercintanya mengalami radang otak hingga mengalami lumpuh layu sejak usia enam bulan. Fakhir terlahirkan dalam kondisi prematur 7 bulan, sehingga kondisi tersebut yang menyebabkan Fakhri sering sakit-sakitan sejak bayi. Fakhri juga didiagnosa terkena radang paru-paru. Berdasarkan penuturan Retno, pada usia 1 tahun Fakhri mengalami kejang dan step yang akhirnya membuat kondisi Fakhri tidak bisa berdiri. Dengan keterbatasan dana Fakhri tetap dibawa ke dokter untuk diperiksa. Namun dengan gajinya yang minim Retno tidak bisa membawa ke Dokter Spesialis atau Rumah Sakit Khusus untuk menyembuhkan sakit anaknya ini.
Retno yang sudah 9 tahun menjadi guru honorer ini hanya menerima honor 400 ribu. Namanya juga guru honorer mas, waktu tanda tangan kontrak menjadi guru ada larangan menuntut masalah honorarium kata dia dengan ikhlas. Dia menuturkan gaji segitu ya dicukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari dia, anak dan ibunya dan juga untuk membiayai Fakhri berobat. Sehingga untuk menutupi kekurangan dia mengajar sambilan. Sudah lebih dari 3 tahun ini Retno membiayai sendiri pengobatan Fakhri.
Sebagai satu-satunya tumpuan keluarga karena single parent bukanlah mudah bagi Retno dalam menjaga anaknya, apalagi kondisi nenek Fakhri (ibu dari Retno Ambarwati) yang sudah tua dan mudah sakit. Ketika neneknya sakit, agar tidak membebani neneknya maka Fakhri diajak ke sekolah dan digendong ketika mengajar.  Sang guru ini berjalan kaki sambil menggendong Fakhri menuju tempat dia mengajar. Pada awalnya dia pun merasa takut ditegur pihak sekolah. Namun ternyata rekan-rekan guru dan kepala sekolah mendukung perjuangan hidup Retno dalam mencari nafkah demi anak dan keluarganya. Tapi sebagai pendidik Retno juga tidak ingin anak-anak di kelas nya juga terganggu proses belajarnya sehingga Fakhri juga ditinggalkannya untuk dijaga sang nenek. Saya juga merasa tidak enak sama pemerintah dan wali murid kalau Fakhri saya bawa terus kata Retno. Karena sejak kecil sakit-sakitan, secara psikis Fakhri mudah takut dengan orang lain, dan selalu ingin dengan ibunya terutama ketika minum susu atau makan. Namun dia tidak mau meninggalkan siswanya untuk ijin memberikan susu.
Kisah Retno ini terdengar oleh Dinas Kesehatan belum lama ini dan akhirnya dia mendapatkan kartu Program Jamkesda untuk neneknya dan Fakhri. Akhirnya Fakhri bisa berobat ke Rumah Sakit di RSUP Purwodadi. Fakhri juga mendapat sepatu terapi supaya dia bisa berlatih untuk berdiri. Retno sangat bersyukur bantuan Jamkesda ini dapat meringankan beban dia, meskipun masih dibutuhkan biaya berobat lainnya. Seminggu sekali Fakhri diantar oleh ibundanya terapi di RSUD, namun dikarenakan dia harus mengajar dan tidak ingin meninggalkan kewajiban dia sebagai guru maka terapi yang seharusnya 3 kali dalam seminggu dia lakukan 1 kali ketika ada waktu luang yang bisa dia tinggalkan sebentar di sekolah.
Sebenarnya Retno juga ingin sekali memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit di kota seperti RS Suharso Solo, yang benar-benar dapat menangani penyakit yang diderita anaknya, namun itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan tidak dicover oleh Program Jamkesda. Padahal gaji dia hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga sampai saat ini Fakhri diobati secara rutin di RSUP Purwodadi.
Retno, dirimu adalah Guru yang layak menjadi tauladan. Kamu berjuang demi anak dan keluargamu dengan bekerja keras, tidak menyerah dan menepis malu terhadap keadaan. Kami pun pantas belajar dari dirimu,  yang telah mengajarkan tentang besarnya cinta seorang ibu kepada anak, perjuangan hidup dan pengabdian. Semoga Tuhan memudahkan perjuanganmu. Aamiin. (yuda w putra/ensiklopediaindonesia.com)
Catatan :
Beberapa tulisan ini kami sempurnakan dan perbaiki setelah kami (admin dan penanggung jawab EnsiklopediaIndonesia.com bapak Yuda Wicaksana Putra) telah mengkontak langsung (10/10/2013) kepada  ibu Retno Ambarwati yang ada di grobogan melalui telepon.  Dikarenakan banyak dari masyarakat yang membaca tulisan ini baik di website maupun social media Facebook / Twitter Ensiklopedia Indonesia, Kota Jogja dan Jogjaku maka kami menanyakan nomer rekening ibu Retno. Dia menyampaikan dia memiliki nomer rekening yang biasa dipakai untuk pembayaran honorarium Gaji dia. Sehingga jika ada yang membantu bisa langsung saja ke rekening ibu Retno. Harapan kami supaya bantuan temen-temen langsung sampai tujuan. Berikut Nomer Rekening :
BNI 0251693893  an Retno Ambarwati
Ibu retno juga menitipkan salam kepada para pembaca yang membantu dan peduli baik yang telah menyumbang atau memberikan doa, dia hanya bisa berterima kasih dan mendoakan semoga bantuan tersebut menjadi amalan mulia dan mendapat balasan dari Allah SWT, semoga bermanfaat bagi kesembuhan Fakhri.
Jika ada yang ingin memberikan bantuan dan menyampaikan melalui EnsiklopediaIndonesia.com bisa kami tampung dan 100% diserahkan kepada ibu Retno untuk pengobatan Fakhri. Kontak tim EnsiklopediaIndonesia.com bisa via No HP : 08112502999 (yuda).
Ternyata kisah ibu Retno yang tersebar di dunia maya dan social media ini telah terdengar oleh media Televisi. Bu retno menyampaikan bahwa beberapa waktu yang lalu dia dikontak dan akan didatangi oleh TV Nasional. Semoga bisa makin menyebarluaskan kisah hidupnya.
retno ambawati guru menggendong anak
Foto : Rustaman Nusantara.  Terima kasih kepada Mas Tommy Ridero yang sudah memberikan informasi kontak Ibu Retno Ambarwati.

Tinggalkan Komentar