Menara Siger, Ikon Wisata Lampung

0
176

Kalau Jakarta identik dengan Monas, Yogyakarta populer dengan Tugu Jogja, Aceh punya Tugu Nol Kilometer Sabang, maka Lampung punya Menara Nol Kilometer Siger. Menara yang baru diresmikan tahun 2008 lalu ini oleh Gubernur Lampung ke-9, Sjachroedin Z. P, diharapkan bisa mendorong kemajuan Lampung khususnya di bidang pariwisata. Menara Siger ini jga merupakan titik nol Sumatra di selatan.
Menara yang dibangun di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni ini dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta wisata di seluruh daerah di Lampung dan tempat bagi para wisatawan untuk melihat pemandangan panorama laut dan Pelabuhan Bakauheni. Menurut Sjachroedin, Menara Siger bukanlah bangunan masa lalu, melainkan bangunan masa depan yang akan menjadi fenomena masyarakat Lampung.
siger3
Posisinya yang strategis yang dekat dengan Pelabuhan Bakauheni diibaratkan sebagai mulut naga yang memuntahkan yang kurang lebih 80 ribu ton/hari. Dengan teknik forcement yang digunakan untuk membangun menara ini, hasil rancangan Ir. Hi. Anshori Djausal M. T ini  diharapkan dapat menahan guncangan dan angin kencang.
Teknik ferrocement merupakan pengembangan tim arsitek Menara Siger, dengan menggunakan jaring kawat menyerupai jaring laba-laba. Pengerjaan lambang siger dan beberapa ornamen tidak menggunakan cor-coran, namun bagian per bagian dengan tangan. Dengan metode ini, setiap inci bangunan tahan guncangan dan terpaan angin laut.
siger4
Secara fisik, Menara Siger dibangun dengan memperhatikan ciri khas Lampung. Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung.
Sedangkan Payung tiga warna (putih-kuning-merah) menandai puncak menara. Payung ini sebagai simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger Prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan. Menara Siger tidak hanya berbentuk sebuah fisik bagunan, tetapi mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat Lampung sesuai dengan filosofi berpikir dan bertindak sesuai visi dan misi mewujudkan Lampung yang unggul dan bardaya saing. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com) (Foto: matahatiku.com; rri.co.id; lampungonline.com)

Tinggalkan Komentar