Festival Sungai, Bengawan Solo Gethek Festival

0
638

Tak hanya memilik kuliner yang nikmat, Solo juga memiliki festival yang cukup unik untuk dinikmati. Salah satu festival unik ini adalah Bengawan Solo Gethek Festival. Festival ini merupakan festival naik gethek (rakit) yang dihiasi beraneka tampilan seni menyusuri sungai Bengawan Solo.

 wisata-keluarga-bengawan-solo-gethek-festival

Gethek merupakan alat transportasi air yang terbuat dari batang bambu yang dirakit sehingga bisa dinaiki di atasnya serta menggunakan batang bambu atau dayung untuk melaju. Pada sekitar abad 17-19, lalu lintas di Bengawan Solo digunakan oleh masyarakat sebagai jalur transportasi air dengan gethek dan perahu sebagai alat transportasi. Pedagang dan penduduk pada umumnya melakukan mobilitas dengan memanfaatkan transportasi air di Bengawan Solo ini. Oleh karena itu pemerintah setempat menggelar festival ini guna melestarikan kebudayaan, menumbuhkan kecintaan terhadap sungai Bengawan Solo dan meningkatkan daya tarik pengunjung di kota Solo.

 Bengawan Solo Gethek Festival  (2)

Dalam Bengawan Solo Gethek Festival  tersebut, sejumlah gethek dikreasi dengan menyajikan kearifan lokal budaya. Seperti dalam Kelurahan Sudiroprajan yang menampilkan gethek akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Kelurahan ini menyajikan gethek yang dihiasi dengan ornamen khas Tionghoa selain topeng Rajamala yang diletakkan tepat di bagian depan.

Tak hanya itu, peserta juga menampilkan aneka ragam hasil bumi yang melambangkan kota Solo sebagai kota yang subur penuh dengan hasil bumi yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

Faisal (ensiklopediaindonesia) photo (solopos.com ; surakarta.go.id)

Tak hanya memilik kuliner yang nikmat, Solo juga memiliki festival yang cukup unik untuk dinikmati. Salah satu festival unik ini adalah Bengawan Solo Gethek Festival. Festival ini merupakan festival naik gethek (rakit) yang dihiasi beraneka tampilan seni menyusuri sungai Bengawan Solo.

 

Gethek merupakan alat transportasi air yang terbuat dari batang bambu yang dirakit sehingga bisa dinaiki di atasnya serta menggunakan batang bambu atau dayung untuk melaju. Pada sekitar abad 17-19, lalu lintas di Bengawan Solo digunakan oleh masyarakat sebagai jalur transportasi air dengan gethek dan perahu sebagai alat transportasi. Pedagang dan penduduk pada umumnya melakukan mobilitas dengan memanfaatkan transportasi air di Bengawan Solo ini. Oleh karena itu pemerintah setempat menggelar festival ini guna melestarikan kebudayaan, menumbuhkan kecintaan terhadap sungai Bengawan Solo dan meningkatkan daya tarik pengunjung di kota Solo.

 

Dalam Bengawan Solo Gethek Festival  tersebut, sejumlah gethek dikreasi dengan menyajikan kearifan lokal budaya. Seperti dalam Kelurahan Sudiroprajan yang menampilkan gethek akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Kelurahan ini menyajikan gethek yang dihiasi dengan ornamen khas Tionghoa selain topeng Rajamala yang diletakkan tepat di bagian depan.

 

Tak hanya itu, peserta juga menampilkan aneka ragam hasil bumi yang melambangkan kota Solo sebagai kota yang subur penuh dengan hasil bumi yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

 

Tinggalkan Komentar