Profil Dee Lestari, Penulis Karya Fenomenal Supernova

0
15
Dee Lestari
Foto: idntimes.com

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COMDewi Lestari yang mempunyai nama pena Dee Lestari merupakan salah satu tokoh Indonesia yang sukses di kancah sastra dan musik. Wanita yang lahir di Bandung tanggal 20 Januari 1976 ini mengawali kariernya dengan menjadi penulis. Dee telah menulis beberapa karya fenomenal seperti serial Supernova, Filosofi Kopi, Madre, dan masih banyak lagi. Lalu, bagaimana cerita di balik kesuksesannya?

Keluarga dan Pendidikan

Foto: https://www.sahabatguru.co

Dee Lestari lahir dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Dia adalah anak keempat dari lima bersaudara, dan tiga saudara perempuannya juga aktif dalam bidang seni. Key Mangunsong, kakak perempuan Dee, merupakan seorang sutradara dan penulis skenario. Sedangkan Imelda Rosalin, kakak keduanya, merupakan seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuan Dee, Arina Ephipania, merupakan seorang penyanyi dan vokalis band Mocca.
Dee memulai pendidikannya dengan bersekolah di SDN Banjarsari III Bandung. Lalu, dia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 2 Bandung dan SMA Negeri 2 Bandung. Di tahun 1998, Dee lulus sebagai Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung dengan jurusan Hubungan Internasional.
Di tahun 2003, Dee menikah dengan penyanyi bernama Marcell Siahaan dan dikaruniai seorang anak bernama Keenan Avalokita Kirana. Setelah menjalani lima tahun pernikahan, Dee bercerai dengan Marcell. Setelah itu, Dee menikah dengan Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan holistik. Mereka dikarunai seorang putrid bernama Atisha Prajna Tiara. Saat ini, Dee tinggal di kawasan Tangerang Selatan bersama suami dan kedua buah hatinya.

Karier Musik Dee Lestari

Foto: http://semarak.co

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Dee sudah aktif di grup vokal, paduan suara, dan band sekolah. Dia juga pernah menjadi anggota grup vokal Highlight Voices dan paduan suara Glorify Lord Ensemble yang berada di bawah pimpinan Daud Saba. Saat di Bandung, Dee juga pernah mendapatkan pelatihan dari para pelatih vokal seperti Erry RAF, Yoseph, Deden AZ, dan Elfa Seciora.
Semasa sekolah, Dee dan timnya kerap menjuarai berbagai perlombaan grup vokal dan paduan suara. Di tahun 1993 saat masih bersekolah di SMA Negeri 2 Bandung, Dee mempelopori pentas seni From 2 With Love. Pentas tersebut menjadi cikal bakal tren pentas seni (pensi) sekolah. Hingga saat ini, From 2 With Love masih bertahan menjadi tradisi di SMA Negeri 2 Bandung.
Setelah lulus SMA di tahun 1993, Dee mengawali karier musiknya sebagai penyanyi latar Iwa K bersama Sita (yang nantinya menjadi teman grupnya di Rida Sita Dewi). Selama dua tahun menjadi penyanyi latar, dia pernah bekerja sama dengan sejumlah penyanyi dan grup papan atas Indonesia. Mulai dari Java Jive, Emerald, Padhyangan Project, Harvey Malaiholo, Project Pop, dan Chrisye.
Dee juga tergabung dalam trio vokal perempuan Rita Sita Dewi (RSD). Mereka merekam demo lagu pertama yang diciptakan oleh Andre Hehanussa dan Adjie Soetama dengan judul Antara Kita yang dirilis pada tahun 1995. Kemudian, disusul dengan album kedua Bertiga (1997), album ketiga Satu (1999), dan album terakhir bertajuk The Best of RSD (2002) yang dirilis oleh Sony Music Indonesia.
Dengan bekal pelajaran piano klasik yang pernah didapatnya saat kecil selama dua tahun dan electone selama tiga tahun, Dee banyak menulis lagu dengan skill pianonya. Dia sudah mulai menulis lagu sejak kelas 5 SD, namun baru menjadi penulis lagu profesional saat bergabung dengan Rita Sita Dewi (RSD).
Salah satu lagunya berjudul Satu Bintang di Langit Kelam (1995) sempat menjadi salah satu hits single yang hits Rita Sita Dewi (RSD). Lagu itu pernah dinyanyikan kembali oleh vokalis Chandra Satria. Lagu ciptaan Dee selanjutnya yang hits adalah Firasat, yang dinyanyikan oleh Marcell di album pertamanya. Lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh Raisa untuk OST film Rectoverso.
Di tahun 2006, Dee merilis album pertamanya dalam bahasa Inggris berjudul Out of Shell dengan single Simply. Di tahun 2008, Dee mengeluarkan album Rectoverso, sebuah karya hibrida buku dan musiknya dengan berbagai single seperti Malaikat Juga Tahu, Peluk (duet bersama Aqi Alexa), dan Aku Ada (duet dengan Arina MRectoverso occa). Saat difilmkan, Malaikat Juga Tahu dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly.
Dee kembali terjun ke dunia musik saat bukunya yang berjudul Perahu Kertas difilmkan. Dua single OST film tersebut, Perahu Kertas dan Tahu Diri, ditulis oleh Dee dan dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Masih di album yang sama, Dee juga menulis Dua Manusia (Dendy), Langit Amat Indah (Rita Sita Dewi), dan A New World (Nadya Fatira).
Dalam karier musiknya, Dee juga kerap berkolaborasi sebagai penulis lirik, seperti Adjie Soetama, Kahitna, Yovie Widianto, dan Noah. Di tahun 2016, Dee kembali menulis single berjudul Kali Kedua untuk Raisa.

Baca Juga:  KH. A.Wahid Hasyim, Ulama Muda Indonesia

Karier Menulis Dee Lestari

Dee Lestari
Foto: liputan6.com

Selain musik, menulis merupakan hobi yang dilakoni oleh Dee Lestari sejak kecil. Semenjak umut 9 tahun, dia sudah berkhayal jika suatu hari dia akan pergi ke toko buku dan menemukan buku yang ditulisnya sendiri. Kemudian, dia membeli buku tulis dan mengisinya penuh, sembari membayangkan bahwa itu adalah buku pertamanya. Judul cerita pertama yang dia tulis adalah Rumahku Indah Sekali, yang berkisah mengenai seorang gadis cilik bernama Fluegel yang mendamba kuda poni.

Menginjak jenjang SMP, Dee mulai mencoba menulis cerita pendek remaja. Dia mengirimkannya ke majalah dan tidak berhasil. Dia juga tidak berhasil saat mengikuti berbagai lomba. Dia sempat frustasi saat mengikuti jalur media karena apa yang dia tulis selalu terlalu panjang atau terlalu pendek. Akhirnya, hobi menulis ini dia lakukan secara diam-diam dan hanya orang terdekat saja yang tahu.
Dari honor menyanyi yang dia dapatkan, Dee membeli laptop pertamanya. Saat kuliah, dia berhasil menelurkan berbagai karya seperti Perahu Kertas, Filosofi Kopi, dan Rico de Coro. Karya-karya tersebut baru diterbitkan lebih dari 10 tahun kemudian.
Di tahun 1993, dia tertarik untuk mengikuti lomba menulis artikel yang diadakan oleh Majalah Gadis. Karena dia merasa tidak percaya diri, dia memakai nama adiknya. Artikel tersebut berhasil menjadi juara lomba.
Lalu, beberapa tahun kemudian, kakak pertama Dee, Key Mangunsong yang berteman dengan Hilman Hariwijaya (Lupus) menunjukkan cerpen Rico de Coro. Kemudian, Hilman menembuskannya ke majalah remaja Mode dan cerpen tersebut mendapatkan sambutan yang hangat dari pembaca.
Namun, pada tahun 2000, Dee menulis sebuah manuskrip yang dia rasa pantas menjadi buku pertamanya yakni Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Dee merasa tidak yakin jika akan ada penerbit yang mau menerbitkan bukunya, dan juga ada tenggat waktu yang ingin dia penuhi. Lalu, dia menerbitkan bukunya sendiri di bawah label Truedee Books.
Dia tidak pernah membayangkan bukunya akan terjual laris. Dia hanya membayangkan pergi ke sebuah toko buku, dan menemukan namanya tertulis di sebuah buku yang dijual di buku tersebut. Dia bertekad untuk menunaikan cita-citanya tersebut di ulang tahunnya yang ke-25. Di bulan Januari 2001, Supernova KPBJ terbit, dan di luar dugaannya, buku tersebut memecahkan rekor buku terlaris dalam waktu singkat. Hanya dalam waktu 14 hari, 7 ribu eksemplar buku tersebut habis diburu pembaca.
Setelah terbitnya Supernova KPBJ tersebut, Dee Lestari makin dikenal sebagai penulis. Kegiatannya di bidang bernyani makin berkurang. Sehingga, pada tahun 2003 dia memutuskan untuk keluar dari Rita Sita Dewi (RSD). Lalu, serial Supernova lain menyusul seperti Supernova: Akar (2002), dan Supernova: Petir (2004).
Setelah itu, Dee menerbitkan antologi pertamanya yang berjudul Filosofi Kopi. Buku antologi tersebut merupakan kumpulan karyanya dari tahun 1995 sampai tahun 2005. Di tahun 2006, Filosofi Kopi berhasil menjadi Karya Sastra Terbaik 2006 versi majalah Tempo dan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Literary Award.
Karena Dee Lestari bercita-cita menjadi penulis multigenre, Dee kemudian menulis fiksi populer yang bertajuk Perahu Kertas dengan segmen yang lebih mengarah ke remaja dewasa. Cerita aslinya dia tulis di tahun 1996, namun dia tulis ulang dan diterbitkan sebagai novel digital pertama di Indonesia di tahun 2008. Perahu Kertas versi cetak baru terbit satu tahun kemudian, yang menjadi kerjasama pertamanya dengan penerbit Bentang Pustaka. Sampai saat ini, Perahu Kertas menjadi salah satu karya Dee yang paling laris.
Dee kembali berkecimpung di dunia musik saat bukunya yang berjudul Rectoverso terbit di tahun 2009. Sebelas cerita pendek bersatu dengan sebelas lagu menjadi karya hibrida sastra dan musik pertama di Indonesia. Buku tersebut merupakan sebuah buku dengan pengalaman audio, visual, dan sastra.
Buku berikutnya yang ditulis oleh Dee adalah sebuah antologi berjudul Madre. Buku tersebut merupakan kumpulan karyanya dari tahun 2007 – 2011. Buku tersebut berisikan tiga belas cerpen dan puisi. Madre berhasil mendapatkan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Di tahun 2012, episode Supernova akhirnya kembali terbit setelah delapan tahun ditunggu oleh pembaca dengan judul Supernova: Partikel. Uniknya, rilisnya buku ini menghebohkan karena menghadirkan banyak alien di berbagai toko buku. Tidak heran, jika #Partikel menjadi trending topic dunia.
Dee Lestari tidak hanya menerbitkan bukunya sendiri, dia juga bekerja sama dengan beberapa penerbit seperti Bark, Akoer, Gagas Media, Goodfaith, dan Bentang Pustaka. Episode Supernova berujudul Gelombang terbit pada Oktober 2014. Dee dan Gelombang berhasil meraih predikat Penulis Fiksi Favorit Pembaca dan Buku Fiksi Favorit Pembaca pada Anugerah Pembaca Indonesia tahun 2015.

Baca Juga:  Sandiaga Uno, Pengusaha Muda Sukses di Indonesia

Serial Supernova ditutup dengan Supernova : Inteligensi Embun Pagi (IEP) yang diterbitkan pada Februari 2016. Melalui program PO (pre-order) serial terakhir Supernova ini terjual 10 ribu eksemplar bahkan sebelum tanggal rilisnya di toko buku. Di tahun 2018, Dee kembali menerbitkan buku berjudul Aroma Karsa yang bercerita mengenai hiperosmia.

  • Kumpulan Karya Dee Lestari di bidang sastra
    • Dee: Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh– Truedee Books, 2001
    • Dee: Supernova: Akar – Truedee Books, 2002
    • Dee: Supernova: Petir – Truedee Books & Akoer, 2004
    • Dee: Filosofi Kopi – Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade – Truedee Books & Gagas Media, 2006
    • Dee: Rectoverso – Goodfaith Production, 2008
    • Dee: Perahu Kertas – Bentang Pustaka, 2009
    • Dee: Madre – Bentang Pustaka, 2011
    • Dee: Supernova: Partikel – Bentang Pustaka, 2012
    • Dee: Supernova: Gelombang – Bentang Pustaka, 2014
    • Dee: Supernova: Inteligensi Embun Pagi, Bentang Pustaka, 2016
  • Dee: Aroma Karsa, Bentang Pustaka, 2018

Kumpulan Karya Dee Lestari di bidang musik
• Rida, Sita, Dewi: Antara Kita – Warna Musik, Indonesia, 1995
• Rida, Sita, Dewi: Bertiga – Warna Musik, Indonesia, 1997
• Rida, Sita, Dewi: Satu – Sony Music, Indonesia, 1999
• Rida, Sita, Dewi: The Best of RSD – Sony Music, Indonesia, 2002
• Dewi Lestari: Out of Shell – Truedee Music, Indonesia, 2006
• Dewi Lestari: Rectoverso – Goodfaith Production, 2008
• OST Perahu Kertas, Trinity Optima, 2012
• OST Rectoverso, Keana Production, 2012
• Single Dongeng Secangkir Kopi (OST Filosofi Kopi), Trinity Optima, 2015

Tinggalkan Komentar