Hari Puisi Nasional, Berikut 5 Karya Chairil Anwar Sastrawan Legendaris Indonesia

0
66
Chairil Anwar
Foto : idntimes.com

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COM – Hari ini tepatnya tanggal 28 April 2020 diperingati sebagai hari puisi nasional di Indonesia. Dilansir dari indozone.id  dirayakannya hari ini demi memperingati Chairil Anwar, sastrawan legendaris yang terkenal akan kepiawayannya dalam merangkai kata-kata.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 22 Juli 1922. Beliau memerankan peran penting dalam pelopor Angkatan ’45, ia berjasa dalam melakukan pembaharuan puisi Indonesia. Tepat pada tanggal 28 April 1949 beliau menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta Selatan. Hari tersebutlah yang kini diperingati sebagai hari Puisi Nasional Indonesia. Semasa hidupnya Chairil Anwar terkenal akan karya-karyanya yang fenomenal. Berikut adalah 5 karya indah miliknya.

  • Aku 

Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

  • Ibu
Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandaiIbu…..

Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu…..

Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan Bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun…..
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….

Baca Juga:  Andy F. Noya - Kick Andy!

Ibu….

Aku sayang padamu…..
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya…..

  • Yang Terampas dan Yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
Dan aku bis lagi lepaskan kisah baru padamu
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

  • Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan menghianat
Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam
Layar merah berkibar hilang dalam kelam
Kawan, mari kita putuskan kini di sini
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju
Jangan tembatkan pada siang dan malam

Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat
Tidak minta ampun atas segala dosa
Tidak memberi pamit siapa saja

Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi
Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi
Sekali lagi kawan, sebaris lagi
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!

  • Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi

Malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Baca Juga:  Biografi Tri Rismaharani, Walikota Terbaik Ketiga Sedunia

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah

Untuk informasi lebih banyak mengenai tokoh, seni dan budaya serta keanekaragaman lainnya bisa diakses di website ensiklopedia indonesia.

Tinggalkan Komentar