Rumah Panggung Minahasa

0
1363

Indonesia memiliki beragam warisan kebudayaan, baik yang bendawi maupun non-bendawi. Salah satu yang paling khas dari Indonesia adalah rumah adatnya yang berbeda-beda. Hampir setiap daerah memiliki rumah adatnya yang khas. Jika kita kembali ke masa SD dulu. Kita pasti menjumpai Atlas Indonesia yang juga berisi kebudayaan-kebudayaan setiap daerah/provinsi di Indonesia. Nah salah satunya adalah Rumah Adat.

Diantara sekian banyak rumah adat yang ada di Indonesia Tengah adalah Rumah Panggung Minahasa. Rumah panggung Minahasa asal Manado ini dikenal dengan sebutan Wale atau Bale yang berarti tempat melakukan aktivitas dalam keluarga.

Berdasarkan filosofi masyarakat Minahasa, Rumah Panggung memiliki dua tangga di serambi depan. Dua tangga ini mempunyai makna khususnya pada saat peminangan. Pihak lelaki yang hendak meminang gadis masuk lewat tangga kiri. Jika pinangan itu diterima mereka keluar melalui tangga sebelah kanan, sedangkan jika pinangan ditolak, mereka kembali melewati tangga sebelah kiri.

Sebuah rumah panggung memiliki 16-18 tiang penyangga. Pada zaman dahulu, rumah panggung bisa dihuni 6-8 keluarga. Masing-masing keluarga mengurusi kehidupan keluarganya sendiri seperti contohnya kehidupan ekonomi.

Arsitektur rumah panggung memiliki dua era, yaitu periode sebelum gempa (1845) dan pasca gempa (1845-1945). Karakteristik ruang dalam rumah, hanya terdapat satu ruang bangsal untuk semua kegiatan penghuninya. Pembatas territorial adalah dengan merentangkan rotan atau tali ijuk dan menggantungkan tikar. Orientasi rumah menghadap ke arah yang

ditentukan oleh Tonaas yang memperoleh petunjuk dari Empung Walian Wangko (Tuhan).

Sedangkan untuk karakteristik rumah panggung pasca gempa sudah terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruang tamu/ ruang setup emperan, ruang tengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang tidur untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang tempat lumbung padi (sangkor). Ruang masak terpisah pada bangunan lainnya. Fungsi loteng/ soldor adalah sama dengan masa sebelumnya yang diperuntukkan menyimpan hasil panen.

Untuk bahan material yang dipergunakan umumnya adalah kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan, yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utan atau pohon wasian, jenis kayu nantu, dan kayu maumbi. Kayu besi digunakan untuk tiang, kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu nantu untuk rangka atap. Bagi masyarakat strata ekonomi rendah menggunakan bambu petung/ bulu jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu yang dipecah.

Seiring perkembangan zaman, Rumah Panggung Minahasa ini bahkan sudah bisa diperjualbelikan dengan system Knock-Down, yaitu pembuatan rumah kayu dengan cara bongkar pasang. Dengan berkembangnya bisni rumah panggung ini, diharapkan bisa melestarikan kebudayaan khas Indonesia ini. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com – Foto)

Tinggalkan Komentar