Makna Filosofis dari Tokoh Punakawan (Petruk- Bagian 3)

0
150

Petruk memiliki masa lalu yang tidak jauh beda dengan kakak sulungnya Gareng. Mereka dipertemukan dalam sebuah peristiwa pertempuran yang sengit antar keduanya. Sebagai salah satu ksatria, Petruk adalah putera dari Begawan Salantara -seorang pendeta raksasa di pertapaan di dalam laut-, sebelumnya iya bernama Bambang Panyukilan. Dalam kesehariannya Bambang Panyukilan ini seorang yang periang dan termasuk seorang yang berilmu tinggi dan pertapa yang tangguh.

Perjumpaan Bambang Panyukilan dengan Bambang Sukodadi ketika mereka berdua sedang melakukan perjalanan penaklukan untuk membuktikan siapa yang pantas di sebut dengan ksatria.  Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, berhantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan.

Ketika kedua ksatria tampan itu mengalami kelelahan setelah bertempur sengit, datanglah Bethara Ismaya (Semar) mendamaikan keduanya. Kedatangan Bethara Ismaya didasarkan pada jalan kebenaran sehingga kedua ksatria tersebut mengikuti tausiahnya. Didasarkan ketulusan dan kearifan dari Bethara Ismaya, kedua ksatria tersebut akhirnya sadar dan luruh dengan keegoisannya.

Mereka berdua minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua kesatria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dan Petruk menjadi anak nomor dua.

Ketika nasib dan takdir seorang Bambang Panyukilan menjadi Petruk, tidaklah merubah sifat aslinya yaitu periang dan setia kawan -selalu berada di tengah-tengah ketika para ksatria mengalami kesusahan dan kesedihan. Dengan setia Petruk mendampingin para ksatrianya dengan lima ajaran yang dia peroleh ketika menjadi pertapa dan seorang ksatria.

Baca Juga:  Omed-omedan, Tradisinya Pemuda Bali

Kelima ajaran tersebut yaitu:
1. Momong artinya bisa mengasuh.
2. Momot artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
3. Momor artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
4. Mursid artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
5. Murakabi artinya bermanfaat bagi sesama.

Petruk Dalam Cerita Pewayangan
Dikisahkan ketika Pandawa sedang membangun Candi Saptaraga, telah terjadi peristiwa besar, Pandawa kehilangan pusaka Jamus Kalimasada. Peristiwa ini sempat membuat internal Pandawa saling tuduh dan hampir berujung pada perang saudara, dikarenakan Dewi Mustokoweni putri dari negara Imantaka, menyamar menjadi seorang Gatotkaca sehingga berhasil membawa lari pusaka tersebut. Peristiwa ini menjadikan Jamus Kalimasada menjadi perebutan antara kedua negara tersebut.

Petruk sebagai salah satu abdi dalem Pandawa mengetahui hal tersebut, dengan kesaktian dan  engaruhnya yang ampuh, dia mampu mendapatkan Jamus Kalimasada dan menduduki singgasana raja kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Fragmen cerita ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Raja).

Ketika pelantikan dirinya sebagai raja, semua kerajaan atau negara yang berhasil dia taklukan hadir semua termasuk Astina. Hanya saja Pandawa, Dwarati serta Mandura menyatakan absen untuk menghadiri pelantikan tersebut. Namun setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati (Prabu Kresna) menyerahkan hal ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diajukan sebagai wakil dari Dwarawati.

Kehadiran Gareng dan Bagong memancing reaksi keras Prabu Welgeduwelbeh. Acara pelantikan pun gagal, terjadilah pertempuran sengit antara ketiganya. Gareng dan Bagong berkoalisi untuk menghadapi kekuatan Prabu Welgeduwelbeh. Pertempuran yang seimbang dan seru ini berlangsung lama sehingga, tidak terlihat pihak mana yang menang maupun kalah.

Baca Juga:  Makna Filosofis dari Tokoh Punakawan (Gareng - Bagian 2)

Rasa lelah membuat ketiganya berkeringat dan tentunya membuat bau badan mereka semerbak keluar satu dengan lainnya. Gareng dan Bagong tidak asing dengan aroma bau badan Prabu Welgeduwelbeh, mereka pun merubah taktik pertempuran dengan kebiasaan mereka bertiga, yaitu bercanda, menarik dengan bergabai macam nyanyian.

Hati kecil Prabu Welgeduwelbeh tidak dapat dibohongi, dia merasa ada yang hilang dalam dirinya selama ini telah dia temukan. Kesadaran sesaat itu membuat sang Prabu Welgeduwelbeh lupa diri, masih berpakaian kerajaan berjoget, bernyanyi ala Punokawan. Setelah ingat, ia segera lari meninggalkan Gareng dan Petruk. Prabu Welgeduwelbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap, sang prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.

Setelah semuanya terbuka, Petruk akhirnya mengakui semua perbuatannya dan menjelaskan alasan kenapa dia melakukan hal itu. Ia beralasan bahwa keputusannya ini untuk memberi peringatan kepada tuannya agar segala perilakunya harus ditata dan penuh perhitungan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan jimat Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun.

Setelah menjadi raja jangan sombong dan meremehkan rakyat kecil, karena rakyat kecil kalau sudah marah/  memberontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah Petruk ingin menyadarkan tuannya, karena kalau secara terang-terangan pasti tidak dipercaya bahkan mungkin dimarahi.  Bagaimanapun Petruk merasa bersalah, kemudian ia minta maaf. Pandawapun akhirnya memaafkan Petruk dan dengan senang hati menerima nasihat Petruk. (aanardian/kotajogja.com)

Tinggalkan Komentar