Upacara Adat Sekaten di Yogyakarta

0
1104
Photo By @nur.mustaqim

Saat anda mengunjungi Yogyakarta satu bulan sebelum perayaan Maulid Nabi Muhammad, maka anda akan melihat pasar malam sekaten yang diselenggarakan di Alun-alun Utara. Pasar malam ini akan berlangsung sampai puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan untuk memeriahkan upacara adat Sekaten. Hal ini sendiri sudah dilakukan sejak abad ke 16 diadakan setahun sekali yakni di bulan Maulud atau bulan ketiga dalam perhitungan kalender Jawa.

Istilah Sekaten sendiri berkembang menjadi beberapa versi. Istilah pertama berasal dari kata Syahadat; yang diucapkan sebagai Syahadatain yang kemudian berangsur-angsur berubah dalam pengucapannya menjadi; Syakatain; dan pada akhirnya menjadi Sekaten ada juga yang berpendapat, sekaten diambil dari nama perangkat pusaka Kraton Yogyakarta yang berupa gamelan bernama Kanjeng Kyai Sekati. Gamelan ini selalu digunakan dalam acara Maulud Nabi Muhammad.

Photo By @bookpacker

Tradisi Sekaten dipercaya sebagai perpaduan antara seni dan dakwah. Pada saat agama Islam mulai masuk ke Jawa, Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu Wali Songo menggunakan kesenian gamelan (alat musik tradisional Jawa) untuk menarik masyarakat agar datang ke pagelaran tersebut. Gamelan yang digunakan untuk Sekaten merupakan benda pusaka milik Kraton yang bernama Kyai Kanjeng Sekati dalam 2 rancak, Kyai Kanjeng Guntur Madu, dan Kyai Kanjeng Nogowilogo.

Kesenian ini tidak hanya menampilkan pertunjukkan gamelan saja tetapi juga dilakukan pembacaan ayat Al-Qur’an dan khotbah di tengah-tengah acara. Bagi masyarakat yang ingin masuk Islam, mereka wajib mengucapkan 2 kalimat Syahadat. Bagi masyarakat Yogyakarta, muncul kepercayaan bahwa orang-orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad akan mendapatkan pahala dan awet muda dengan syarat mereka wajib mengunyah sirih di depan Masjid Agung, khususnya pada saat hari pertama Sekaten dimulai. Karena itu tidak heran banyak sekali orang yang berjualan sirih selama sekaten. Dalam perayaan ini para petani biasanya juga memohon agar panennya berhasil. Untuk memperkuat tekadnya, mereka juga membeli cambuk dari para penjual yang berjualan di sini.

Photo By @fendysuryadhana

Sebelum Sekaten dimulai, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Persiapan tersebut meliputi fisik dan persiapan batin. Persiapan fisik antara lain adalah alat-alat dan perlengkapan yang akan digunakan untuk upacara Sekaten yakni Gendhing Sekaten, Gamelan Sekaten, bunga kanthil, sejumlah uang logam, samir niyaga, busana seragam, dan naskah riwayat Maulud. Pada persiapan batin, abdi dalem yang akan terlibat dalam Tradisi Sekaten harus menyiapkan batin dan mental untuk menjalankan amanat tersebut. Para abdi yang ditugaskan untuk memukul gamelan harus menyucikan diri dengan melakukan siram jamas dan berpuasa.

Perayaan Sekaten sendiri dimulai tanggal 6 Maulud saat Kyai Kanjeng Sekati diboyong dari persemayamannya. Kyai Kanjeng Nogowilogo dipindahkan ke Bangsal Trajumas sedangkan Kyai Kanjeng Guntur Madu diletakkan ke Bangsal Srimanganti. Pada tanggal 11 Maulud, Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk mengikuti upacara Maulud Nabi Muhammad SAW. Setelah upacara selesai, perangkat gamelan Sekaten dibawa kembali ke Kraton. Pemindahan ini sekaligus menjadi tanda berakhirnya upacara Sekaten.

Tinggalkan Komentar