Harimau Sumatera, Satwa Endemik Pulau Sumatra

0
34

Satwa yang memiliki nama ilmiah Phantera Tigris Sumatrae ini merupakan salah satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup. Satwa ini kini masuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah. Hingga hari ini, jumlah dari satwa langka ini hanya 400-500 ekor yang hidup di alam bebas. Populasi mereka terancam punah karena dua hal, yang pertama banyaknya penebangan liar dan yang kedua maraknya perdagangan ilegal oleh oknum-oknum tertentu.
Harimau sumatra memiliki tubuh yang paling kecil di antara spesiesnya dengan pola warna paling gelap,mulai dari kuning kemerah-merahan hinga oranye tua. Dengan ukuran badan untuk harimau jantan tinggi hingga 60 cm dan panjang hingga 250 cm dari kepala hingga kaki dan berbobot hingga 140 kg, sedangkan untuk harimau betina, panjang rata-rata 168 cm dan berat hingga 91 kg.
Harimau Sumatra hanya dapat ditemukan di hutan-hutan Sumatra selain di tempat-tempat konservasi di seluruh dunia. Habitat Harimau Sumatra mengalami ancaman kehilangan karena habitat asli mereka mulai tergusur oleh aktivitas pembalakan, pembangunan jalan, dan juga pembukaan lahan untuk pertanian. Karena habitatnya yang semikan berkurang, kadang Harimau terpaksa memasuki wilayah manusi atau tersesat hingga ditangkap oleh warga.
Harimau Sumatera bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak. Dalam rantai makanan, Harimau Sumatra menduduki posisi tertinggi. Sebagai predator utama, Harimau Sumatra memegang peranan penting dalam menjaga ekosistem sekitar. Harimau Sumatra memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat berguna ketika sedang mencari mangsa.
Untuk masa reproduksi Harimau Sumatra, mereka dapat berkembang biak kapanpun. Dengan masa kehamilan sekitar 103 hari, para Harimau betina biasanya melahirkan sekitar 2 atau 3 ekor anak harimau dan paling banyak 6 ekor. Setelah lahir, anak harimau hanya minum air susu dari induknya selama 8 minggu pertama setelah itu, mereka dapat mencoba makanan padat. (Hikari/inloveindonesia.com)

Tinggalkan Komentar