Mengenal Dahlan Iskan, Raja Media dan Menteri BUMN yang Dulu Tak Mampu Beli Sepatu

0
13
Dahlan Iskan
Foto : fajar.co.id

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COM – Dahlan Iskan merupakan salah satu figur yang dikenal baik di Indonesia. Dia dikenal karena telah berhasil memimpin koran Jawa Pos yang tadinya hanya koran daerah yang hampir gulung tikar menjadi sebuah koran nasional yang memiliki penjualan yang fantastis. Dahlan Iskan juga pernah menjabat sebagai menteri BUMN, menggantikan Mustafa Abubakar.

Dahlan Iskan lahir di Desa Kebun Dalam Tegalarum, Kecamatan Bando, Magetan, Jawa Timur pada tahun 1951. Dia tidak pernah tahu tanggal dan bulan yang tepat dia dilahirkan, jadi sampai saat ini dia menggunakan tanggal lahir karangannya sendiri yakni 17 Agustus 1951.

Masa Kecil Dahlan Iskan

Dahlan Iskan merupakan anak dari sepasang orang tua Mohammad Iskan dan Lisnah. Dia adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama Dahlan bernama Khosyatun, dan kakak keduanya bernama Sofwati. Sedangkan, adik bungsu Dahlan bernama Zainuddin.
Orang tua Dahlan hidup dalam keadaan yang sangat miskin. Dahlan dan saudara-saudara kandungnya biasa hidup dalam kesederhanaan. Kehidupannya yang serba kekurangan tersebut membuat Dahlan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Bahkan, dia dan saudara-saudaranya juga sering didera kelaparan karena tidak memiliki makan.

Saat kecil, Dahlan Iskan hanya mempunyai satu stel baju berupa kaus, celana, dan satu sarung. Sarung merupakan pakaian yang serbaguna baginya. Saat baju dan celananya dicuci, dia mengenakan sarung tersebut hingga pakaiannya kering.

Bahkan, saat sekolah, dia tidak memiliki sepatu. Dia berjalan kaki dengan tanpa alas kaki padahal dia harus berjalan kaki puluhan kilometer dari rumah ke sekolah. Kakinya jadi lecet karena berjalan tanpa sepatu tersebut. Saat itu, dia menyimpan sebuah keinginan besar untuk dapat memiliki sepeda dan sepatu (cerita selengkapnya dapat dibaca di buku berjudul “Sepatu Dahlan”).

Baca Juga:  Martha Tilaar, Pengusaha Kosmetik Sukses Hingga ke Mancanegara

Kenangan Dahlan Iskan Soal Orang Tuanya

Walau keluarganya hidup dalam kekurangan, Dahlan mengenang orang tuanya sebagai sosok-sosok yang bersahaja. Suatu hari, ibu Dahlan terserang sebuah penyakit yang membuat perutnya membesar. Karena mereka orang desa yang minim pengetahuan soal medis sekaligus tak punya biaya, mereka tidak mengetahui apa jenis penyakit tersebut. Lalu, ibu Dahlan pun meninggal dunia. Saat sudah dewasa, Dahlan baru mengetahui jika ibunya menderita sejenis kista yang pada dasarnya bisa disembuhkan dengan operasi sederhana. Mengingat hal tersebut, Dahlan merasa kecewa dan bertekad untuk menjadi orang yang pandai, kaya, dan sukses. Agar hal tersebut tidak menimpa keluarganya lagi.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Foto: rmoljabar.com

Dahlan bersekolah di sebuah madrasah yang juga disebut sebagai sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar). Setelah lulus, dia melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama, dan melanjurkan ke sekolah aliyah tingkat SLTA.

Setelah tamat SLTA, dia melanjutkan sekolahnya di Fakultas Hukum IAIN Sunan Ampel dan juga di Universitas 17 Agustus. Saat kuliah, dia lebih suka mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti Pelajar Islam Indonesia. Dia juga menulis majalah dan koran mahasiswa daripada mengikuti kuliah. Karena itu, dia tidak jadi melanjutkan kuliahnya.

Lalu, dia pindah ke Samarinda, Kalimantan Timur. Di sana, dia tinggal dengan menumpag di rumah kakak tertuanya. Di sana, dia bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar lokal. Tulisannya banyak diminati oleh para pembaca.

Pada tahun 1976, dia kembali ke Surabaya dan bekerja menjadi wartawan Majalah Tempo. Saat itu, terjadi sebuah musibah yang bersejarah yakni tenggelamnya Kapal Tampomas. Dahlan menulis musibah tersebut sepenuh hati dan menaruhnya di Headline News Tempo. Tidak disangka, hasilnya luar biasa dan banyak pembaca yang menyukai gaya bahasa Dahlan. Hal tersebut membuat pimpinan Tempo mengangkatnya sebagai kepala biro Tempo Jawa Timur.
Meskipun dia sudah bekerja dan menulis untuk Tempo, dia juga diam-diam menulis untuk koran lain seperti Surabaya Post dan Ekonomi Indonesia untuk menambah penghasilan. Hal tersebut membuatnya ditegur oleh pimpinan Tempo.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Achmad Zaky, CEO dan Pendiri Bukalapak

Dahlan Iskan dan Jawa Pos

Pada akhir tahun 1970-an, omset Jawa Pos merosot tajam dan tahun 1982 oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar. Pemilik Jawa Pos, The Chung Shen, memutuskan untuk menjualnya dan dibeli oleh Direktur Utama PT Grafiti Pers, Penerbit Tempo bernama Eric Samola. Melihat prestasi dan tekad Dahlan untuk berbuat lebih, dia dipromosikan menjadi pemimpin Koran Jawa Pos.
Saat koran-koran dibagikan di sore hari, Dahlan Iskan mengusulkan untuk menerbitkan dan membagikan koran Jawa Pos di pagi hari. Hal tersebut sempat ditentang olah para staf. Namun, Dahlan berpendapat jika itu strategi yang tepat untuk mengesankan jika Jawa Pos menyajikan berita secara lebih cepat dibandingkan koran lainnya.
Lambat laun, masyarakat terbiasa membaca koran di pagi hari dan Jawa Pos mengalami kenaikan omset 20 kali lipat. Dari surat kabar yang hampir bangkrut, Dahlan berhasil menjadikan Jawa Pos menjadi surat kabar yang spektakuler dan mengubah kebiasaan membaca masyarakat di sore hari menjadi di pagi hari. Bahkan, koran-koran lain juga ikut-ikutan menerbitkan koran di pagi hari agar tidak kehilangan pasar.
Di tahun 1993, Dahlan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin redaksi dan pemimpin umum Jawa Pos karena dia bermaksud memberikan kesempatan kepada orang yang lebih muda untuk berkarya.

Bekerja Sebagai Komisaris Fangbian Iskan Corporindo (FIC)

Di awal tahun 2009, Dahlan menaruh investasinya di bidang industri komunikasi. Dia membangun SKKL (Sambungan Komunikasi Kabel Laut) yang akan menghubungkan Surabaya – Indonesia dan Hong Kong dengan menggunakan serat optik optic mencapai 4.300 km. Di sini, Dahlan menjabat sebagai komisaris.

Menjadi Dirut PLN

Kesuksesan Dahlan di dalam mengembangkan Jawa Pos membuatnya terkenal di mana-mana, bahkan Presiden SBY sampai melantiknya menjadi Dirut PLN. Walau banyak pihak yang tidak setuju, namun dia berhasil membuat berbagai gebrakan dan membangun sejumlah proyek untuk PLN.

Baca Juga:  KH. A.Wahid Hasyim, Ulama Muda Indonesia

Menjadi Menteri BUMN

Pada tanggal 19 Oktober 2011, Dahlan Iskan diminta berhenti menjadi Dirut PLN dan diangkat menjadi Menteri BUMN. Dia hanya menjabat selama dua tahun sebagai Dirut PLN, dan dia pun merasa berat hati saat akan meninggalkan PLN. Walau begitu, dia tetap menyanggupi permintaan Presiden SBY tersebut.
Selama menjadi menteri BUMN, dia melakukan berbagai gerakan. Salah satunya yakni membersihkan BUMN dari korupsi. Dia memberikan syarat khusus dalam pengangkatan CEO dalam perusahaan BUMN, yakni mempunyai integritas yang tinggi.

Dahlan Iskan Melakukan Cangkok Hati

Dahlan Iskan pernah terjangkit virus Hepatitis B dan membuatnya harus melakukan transplatasi hati. Dia mengalami muntah darah dan melakukan pengecekan ke seorang dokter. Ternyata, hatinya telah sirosis dan sudah rusak karena dipenuhi kanker. Dengan penuh pertimbangan, Dahlan memilih sebuah rumah sakit di Tianjin, China. Sebelumnya, dokter memvonis jika dia hanya mempunyai sisa umur 6 bulan dan paling lama dua tahun. Namun, untungnya dia mendapatkan pendonor hati dan sukses dalam menjalani operasi. Dia juga sempat diundang di acara Kick Andy untuk menceritakan kisah menganai operasi pencangkokan hati tersebut.

Tinggalkan Komentar