Mayat Berjalan, Tradisi Unik Tana Toraja

0
125
Foto : brilio.net

ENSIKLOPEDIAINDONESIA.COM – Pernahkah anda menonton film Train to Busan, pada film itu diceritakan zombie yang merupakan mayat hidup dapat berjalan bahan menyerang warga Seoul, Korea Selatan. Ternyata di Indonesia ada juga loh mayat yang bisa berjalan, namun tidak dalam wujud zombie yang bisa menyerang ya. Mayat yang bisa berjalan ini merupakan salah satu tradisi asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Film Train to Busan
Foto : wall.alphadocers.com

Tradisi unik ini disebut juga ritual Ma’Nene dan dilakukan khusus  oleh masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Ritual ini merupakan wujud penghormatan kepada leluhur yang dilaksanakan setelah musim panen yaitu bulan Agustus.

Foto : IndonesiaKaya.com

Sejarah ritual Ma’Nene berawal pada tahun 1905 dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek yang menemukan jasad manusia dengan kondisi yang menyedihkan. Pong lalu membersihkan dan mengganti pakaian jasad dengan pakaian layak untuk kemudian dikuburkan. Semenjak saat itu Pong mendapatkan banyak berkah mulai dari panen melimpah dan perburuannya menjadi lebih mudah.

Dari peristiwa itu Pong menganggap bahwa jasad harus tetap dirawat dan dihormati. Kemudian hal itu menjadi budaya warisan turun menurun hingga saat ini. Masyarakat percaya dengan melakukan ritual ini mereka akan memperoleh hasil panen yang melimpah dan ternak akan sukses.

Foto : nationalgeographic.grid.id

Prosesi Ma’Nene diawali dengan mendatangi pemakaman leluhur di Patane , Lembang Paton, Kecamatan Sariale, Toraja Utara. Sebelum membuka peti mati tetua (Ne’Tomina Lumba) membacakan doa dengan bahasa Toraja Kuno. Kemudian mayat diangkat untuk dibersihkan dan diganti pakaiaannya. Selama proses berlangsung jasad tidak boleh menyentuh tanah karena dikhawatirkan akan menjadi rusak dan tidak murni lagi.

Foto : liputan6.com

Setelah segala prosesi pembersihan dan penggantian pakaian selesai, jasad akan dipapah berjalan menuju tempat pemakamannya. Disinilah mayat berjalan terlihat.

Baca Juga:  Makna Filosofis dari Tokoh Punakawan (Gareng - Bagian 2)

Tradisi yang terlihat menyeramkan ini menjadi salah satu keunikan yang menarik wisatawan mancanegara. Untuk itu sebagai generasi muda penerus bangsa kita perlu menjaga warisan budaya dan  menghormati kearifan lokal agar tetap lestari.

Foto : boombastis.com

Tinggalkan Komentar